Salah satu kenikmatan kebahagiaan yang aku saat bepergian ke suatu mesjid yaitu ketika bertemu dengan teman-temanku. Kebahagiaan yang berbeda dibandingkan dengan ketika bertemu teman di tempat umum, tempat belanja, toko buku atau tempat lainnya. Oke balik ke topik, berikut empat mesjid lainnya pada safari ramadhan kemarin. aku ingin mendatangi kembali keempat mesjid ini bila masih diberi kesempatan. Berikut mesjid-mesjidnya.
Mesjid Baitul Ihsan (BI)
Berawal dari kegiatan share on shaur (dulunya sahur on the road) aku tahu mesjid ini. Mesjid BI, BI singkatan dari Baitul Ihsan atau juga bisa Bank Indonesia, sudah jelas dimana letaknya bukan? Bank Indonesia (BI) tidak sulit alamatnya coba liat di mata uang, ada alamatnya bukan? pokoknya di sekitar barat daya Monas, Jakarta Pusat. Suasana dan keadaan mesjid benar-benar mendukung untuk itikaf karpet di Mesjid ini tebal dan hampir seluruh bagian dalam mesjid beralaskan karpet tebal ini, terutama tiga shaf (barisan) paling depan. Mesjid sepertnya benar-benar terawat oleh perawat profesional karena terlihat bersih setiap sudutnya. Bangunannya sendiri terdiri dari 2 Lantai ditambah satu lantai basement. basement tidak begitu tahu isinya karena pasa saat disana hanya diperbolehkan untuk kaum hawa. Sekitar jam 21.00 ada ceramah pengantar tidur dan ba'da subuh pengantar kegiatan hari itu. Pada malam hari, Qiyamullail (Berdiri Malam-malam aka Shalat malam) imam membacakan surat Al-Quran sepanjang tiga juz dalam sebelas rakaat. Tidak terasa lama malahan begitu enak karena imam membawakannya secara tartil (teratur dan benar). Pada dua rakaat pertama hampir semua peserta itikaf ikut berjamaah dan dua rakaat berikutnya jamaah saling bergantian istirahat, sehingga kehilangan sekitar satu atau dua shaf.
Mesjid El-Nusa
Mesjid ini di wilayah perkantoran. El-Nusa sebuah anak perusahaan dari pertamina mempunyai lambang kuda laut tapi gak tau perempuan atau laki-laki. Tempatnya di jalan TB Simatupang searah dengan Cilandak Town Square (Citos). Pada malam saat disini hujan besar turun, namun itu tidak menurunkan semangat untuk ibadah tapi sayangnya meningkatkan semangat untuk tidur. Sekitar jam 21.00 ada kajian, sepertinya menarik mengenai Islam Liberal, tapi aku tertidur nyenyak terbangun sedikit hanya ketika pendengar kajian berisik. Malam harinya Qiyamullail dibawakan surat Al-Isra hingga surat Thaha. Pagi hari yang biasanya tidak tahan menahan kantuk ba'da subuh, tapi tidak kali ini. Ada sebuah ceramah dari salah satu peserta Itikaf yang cukup menarik Kantuk hilang karena penceramah pandai mengmbil perhatian pendengar berceramah menggunakan gaya pewayang, walau ada yang gak ngertinya karena menggunakan boso jowo. Penceramahnya ternyata dari peserta itikaf, peserta dibuat berkelompok-kelompok dan dibuat perlombaan, salah satu penilaiannya dari ceramah pagi tersebut. Kreatif juga panitia Itikaf disini....
Mesjid Daarut Tauhid (DT)
Sebuah mesjid yang identik dengan sebuah pesantren yang diasuh oleh seorang yang ustadz yang terkenal Aa Gym (Abdullah Gymnastiar). Berada di daerah sejuk Geger Kalong Bandung, dekat juga dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Mesjid yang tidak terlalu besar tapi selama aku perhatikan selalu penuh dengan jamaah. Keteraturan sungguh terlihat di mesjid ini. Sandal selalu penuh walau tak ada tempat khusus tapi tersusun rapi karena ada petugas yang selalu sigap merapikan (sepertinya mereka adalah santri DT) dan juga jamaahnya mungkin sudah berbudaya rapi seperti itu. Setiap setelah adzan ada sebuah timer mengitung mundur waktu hingga iqamah dilaksanakan, sehingga tidak ada lagi buru-buru shalat qabliyah ataupun kesal menunggu orang yang tidak tau waktu untuk shalat qabliyah. Di bagian bawah ada yang disebut darul hidayah tapi aku belum tahu untuk apa itu. Ada yang tahu? sedangkan dibagian atas masih ada dua lantai. Kalo lagi tarawih jamaah meleber hingga ke seberang jalan banyak juga dibandingkan kapasitas yang tersedia. Aku mampir kesini bukan saat 10 hari terakhir Ramadhan tapi mesjid sudah cukup penuh, apalagi kalo pas banyak orang yang itikaf yaa! hmm,,, gak ngebayangin.
Mesjid Attin
Di Mesjid inilah aku mendapatkan jamaah itikaf paling banyak. Mesjid ini sangat besar dan ternyata jamaahnya pun banyakpadahal di sekitarnya tidak banyak tempat tinggal. Tidak tahu apakah memang setiap malam ketika ramadhan padat atau karena pada saat aku disana adalah pada malam ke 27. Mencari tempat untuk merebahkan badan saja agak sulit. Orang tidur dari mulai bagian atas yang merupakan tempat ibadah, kemudian disusunan anak tangga dan juga selasar-selasar bagian bawah mesjid diatas maupun dibawah. Untungnya mesjid ini memiliki tempat wudhu dan toilet yang cukup besar dan terawat. Ketika akan berwudhu, antrian sungguh banyak tapi ternyata antriannya padat merayap lancar. Terlihat bahwa perawatannya cukup baik.
Untuk kali ini aku ingin berterima kasih kembali kepada kamal yang masih tetap menjadi "supir pribadiku" ditambah satu lagi "supir pribadiku" yaitu chandra, selain itu juga kepada sahabatku M. muslim T. - teman se-SMA, se-asrama, se-kamar, se-ranjang, ups... tapi gak sekasur- yang telah menyediakan tempat singgah di Bandung. Perjalanan ke Bandung dengan kereta ternyata indah sekali pemandangannya walaupun lebih lama 1 jam dibandingkan bus. Ramadhan kini telah berlalu, dan kini saatnya menghadapi sebelas bulan di depan, mempraktekkan apa yang didapat dari pendidikan (tarbiyah) Ramadhan. Mulai dari nol yaa!?
* supir pribadi maksudnya aku menumpang pada kendaraan milik sang supir 
Comments
right...
mudah"an diberi umur panjang Yans,...
Sebenarnya saya tidak tahu pasti apakah mereka melakukan itu sebagai petugas atau sikap dari responsibility mereka (santri DT). Tapi tetap itu contoh yang baik.
~jadi inget waktu jadi qismu ta'lim opht (hehe roaming....)
Post new comment